Panduan Keamanan Pangan Rumah Tangga: 5 Kunci, Suhu Aman, dan Kesalahan yang Sering Terjadi

Keamanan pangan rumah tangga bertumpu pada 5 hal yang urutannya sudah ditetapkan WHO dan dipakai BPOM serta Kementerian Kesehatan: jaga kebersihan, pisahkan mentah dari matang, masak sampai matang, simpan di suhu aman, dan pakai air

Written by: orangbilang

Published on: 22/08/2026

Keamanan pangan rumah tangga bertumpu pada 5 hal yang urutannya sudah ditetapkan WHO dan dipakai BPOM serta Kementerian Kesehatan: jaga kebersihan, pisahkan mentah dari matang, masak sampai matang, simpan di suhu aman, dan pakai air serta bahan baku yang aman. Empat angka yang perlu kamu hafal cuma ini: 20 detik cuci tangan, 70°C suhu masak minimal, 2 jam batas makanan matang di suhu ruang, dan 5°C sampai 60°C sebagai zona bahaya.

Yang bikin panduan ini penting, sumber keracunan pangan terbesar di Indonesia justru ada di dapur rumah sendiri. Artikel ini merangkum panduan resmi WHO, BPOM, Kemenkes, CDC, FDA, dan USDA, lalu menerjemahkannya ke praktik yang bisa kamu jalankan malam ini juga.

Termasuk satu kebiasaan dapur Indonesia yang bertentangan dengan panduan internasional, dan bagaimana cara menyiasatinya tanpa harus mengabaikan kenyataan di pasar tradisional.

Kenapa Dapur Rumah Jadi Titik Rawan

Angkanya cukup mengejutkan. Berdasarkan Sistem Pelaporan Informasi Masyarakat Keracunan (SPIMKer) yang dirilis BPOM untuk periode 2023, mayoritas kasus Kejadian Luar Biasa keracunan pangan berasal dari masakan rumah tangga, yaitu 53%, diikuti gerai pangan jajanan keliling 18% dan jasa boga 18%. BPOM juga mencatat bahwa banyak KLB keracunan pangan di Indonesia belum dilaporkan, sehingga data yang tersedia belum menggambarkan kondisi sebenarnya di masyarakat. Artinya angka 53% itu kemungkinan besar masih di bawah kenyataan.

Skala globalnya juga baru diperbarui. Pada 4 Juni 2026, WHO merilis estimasi terbaru beban penyakit bawaan pangan periode 2000 sampai 2021. Pangan yang tidak aman diperkirakan menyebabkan sekitar 866 juta kasus penyakit dan 1,5 juta kematian setiap tahun. Estimasi ini mencakup 42 bahaya pangan utama di tingkat nasional, regional, dan global.

Yang perlu kamu perhatikan kalau punya anak kecil di rumah: anak di bawah 5 tahun menghadapi risiko sakit hampir 3 kali lipat dibanding anak yang lebih besar dan orang dewasa. Meski hanya 9% dari populasi dunia, kelompok ini menanggung hampir sepertiga dari seluruh kasus penyakit bawaan pangan, terutama diare.

Kabar baiknya, beban penyakit bawaan pangan secara keseluruhan sudah menurun sejak tahun 2000. Kabar kurang baiknya, Afrika dan Asia Tenggara masih menanggung hampir tiga perempat dari total kasus dan 60% dari total kematian. Indonesia ada di wilayah kedua.

5 Kunci Keamanan Pangan Rumah Tangga yang Dipakai WHO dan BPOM

Ada satu hal yang membingungkan kalau kamu mencari referensi resmi: ada 2 versi “5 kunci keamanan pangan” yang beredar di situs pemerintah Indonesia, dan isinya tidak sama persis.

Versi WHO menyusunnya berdasarkan tahapan risiko mikrobiologis. Rumusan ini disusun dan divalidasi oleh panel ilmuwan internasional independen pada tahun 2001, dan lebih dari 130 negara melaporkan penggunaannya. Versi BPOM menyusunnya berdasarkan urutan aktivitas konsumen, dari belanja sampai penyajian.

Keduanya sah dan saling melengkapi. Berikut perbandingannya.

Tabel 1. Perbandingan 5 kunci keamanan pangan versi WHO dan versi BPOM

Kunci Versi WHO (dipakai Kemenkes) Versi BPOM
Kunci 1 Jaga kebersihan Beli pangan yang aman
Kunci 2 Pisahkan pangan mentah dan matang Simpan pangan dengan aman
Kunci 3 Masak sampai matang Siapkan pangan dengan seksama
Kunci 4 Simpan pada suhu aman Sajikan pangan yang aman
Kunci 5 Gunakan air dan bahan baku aman Jaga kebersihan selalu
Titik berat Tahapan risiko mikroba Urutan aktivitas konsumen

Sumber: WHO Five Keys to Safer Food dan siaran pers BPOM.

Panduan di bawah ini memakai kerangka WHO karena itu yang juga dipakai Kementerian Kesehatan lewat laman Ayo Sehat, sekaligus jadi acuan pelatihan keamanan pangan di banyak negara.

Kunci 1: Jaga Kebersihan Tangan, Peralatan, dan Area Dapur

Kemenkes menetapkan angka minimalnya: cuci tangan dengan benar minimal 20 detik sebelum menyentuh makanan, dan pastikan area dapur, peralatan, serta wadah selalu bersih dan bebas dari hama seperti lalat atau tikus. CDC memakai patokan yang sama, yaitu 20 detik dengan sabun dan air, sebelum dan sesudah memegang bahan mentah.

WHO menambahkan satu detail yang sering terlewat: cuci tangan juga setelah dari toilet, dan bersihkan seluruh permukaan serta peralatan yang dipakai untuk menyiapkan makanan.

Sekarang bagian yang jarang dibahas: spons cuci piring.

Sebuah studi yang terbit di Scientific Reports pada 2017 memeriksa spons dapur bekas pakai dan menemukan kepadatan sel bakteri mencapai 54 miliar per sentimeter kubik, lengkap dengan struktur biofilm di dalam pori-porinya. Studi yang sama menemukan sesuatu yang bertentangan dengan saran populer: spons yang rutin disterilkan tidak mengandung bakteri lebih sedikit dibanding spons yang tidak pernah disterilkan, kemungkinan karena mikroba yang selamat cepat mengoloni ulang.

Di sisi lain, USDA mencatat pemanasan spons di microwave mampu menurunkan populasi bakteri secara drastis dalam pengujian laboratorium jangka pendek. Jadi buktinya belum searah. Yang lebih konsisten di berbagai penelitian adalah temuan bahwa sikat cuci piring lebih higienis dibanding spons karena cepat kering.

Kesimpulan praktis untuk dapur kamu: pertimbangkan sikat cuci piring untuk pemakaian harian, ganti spons secara rutin daripada mengandalkan sterilisasi, dan buang spons yang sudah berbau. Untuk lap dapur, sediakan lap terpisah untuk mengeringkan tangan, mengelap meja, dan mengeringkan piring.

Kalau kulkas kamu sudah mulai berbau padahal isinya rapi, itu tanda ada koloni mikroba yang perlu diurus. Cek panduan membersihkan kulkas supaya tidak bau untuk langkah lengkapnya.

Kunci 2: Pisahkan Pangan Mentah dari Makanan Matang

Kemenkes menyebut langkah konkretnya: pisahkan bahan mentah seperti daging, unggas, ikan, seafood, dan telur dari makanan matang, dan gunakan wadah, pisau, talenan, serta serbet yang berbeda untuk masing-masing jenis bahan.

CDC menambahkan aturan penyimpanan yang spesifik: simpan ayam di rak paling bawah kulkas dalam wadah tertutup atau terbungkus rapat supaya cairannya tidak menetes ke bahan lain. Alasannya sederhana, cairan daging mentah membawa bakteri dan gravitasi bekerja ke bawah.

Satu aturan lagi dari CDC yang sering dilanggar tanpa sadar: jangan pernah meletakkan makanan matang atau bahan segar di piring, talenan, atau permukaan yang sebelumnya dipakai untuk ayam mentah. Ini yang sering terjadi saat kamu mengangkat ayam mentah dari piring untuk digoreng, lalu memakai piring yang sama untuk menaruh ayam yang sudah matang.

Kalau dapur kamu sempit dan tidak muat 2 talenan, pilihan paling murah adalah menjadwalkan urutan kerja: potong sayur dan bahan siap saji dulu, baru daging mentah terakhir, lalu cuci talenan dengan air panas dan sabun.

Penataan isi kulkas ikut menentukan seberapa besar risiko kontaminasi silang. Panduan lengkapnya ada di cara menyimpan makanan di kulkas.

Kunci 3: Masak Sampai Matang Sempurna

WHO memberi 1 angka patokan: masak makanan sampai matang, terutama daging, unggas, telur, dan seafood. Didihkan makanan berkuah seperti sup dan semur untuk memastikan suhunya mencapai 70°C. Untuk daging dan unggas, pastikan cairannya bening, bukan merah muda. Idealnya gunakan termometer. Alasannya: penelitian menunjukkan memasak makanan sampai 70°C membantu memastikan makanan itu aman dikonsumsi.

USDA memakai pendekatan yang lebih rinci dengan suhu internal berbeda per jenis bahan. Perbedaan ini ada alasannya. Potongan daging utuh hanya membawa bakteri di permukaan, sedangkan penggilingan menyebarkan bakteri permukaan ke seluruh bagian daging.

Tabel 2. Suhu internal minimal yang aman menurut USDA

Jenis bahan Suhu internal minimal Catatan
Semua unggas (ayam utuh, potongan, giling) 74°C Ukur di bagian paling tebal, jauhi tulang
Daging giling (sapi, kambing, domba) 71°C Warna cokelat bukan tanda aman
Telur dan olahan telur 71°C Atau sampai kuning dan putihnya set
Steak, chop, roast (sapi, kambing, domba) 63°C Diamkan 3 menit sebelum dipotong
Ikan dan seafood 63°C Atau sampai daging buram dan mudah terpisah
Sisa makanan dan casserole 74°C Panaskan sampai mengepul merata

Sumber: USDA Food Safety and Inspection Service.

Kalau kamu tidak punya termometer daging, patokan WHO tentang cairan bening adalah alternatif terdekat, meski akurasinya lebih rendah. USDA menegaskan warna daging dan warna cairan bukan indikator kematangan yang akurat, dan daging giling bisa berubah cokelat sebelum mencapai suhu yang membunuh bakteri.

Untuk masakan Indonesia yang umumnya berkuah dan dimasak lama seperti opor, gulai, atau sup, angka 70°C hampir pasti terlampaui. Risiko justru muncul pada masakan cepat seperti ayam goreng tepung tebal, sate, dan telur setengah matang.

Kunci 4: Simpan pada Suhu Aman

Ini bagian yang paling sering jadi titik gagal di rumah tangga Indonesia.

WHO menyebut rentang 5°C sampai 60°C sebagai zona bahaya. Mikroorganisme berkembang biak dengan cepat kalau makanan disimpan di suhu ruang, dan pertumbuhannya melambat atau berhenti saat suhu ditahan di bawah 5°C atau di atas 60°C. USDA menyebut rentang serupa dan mencatat bakteri bisa berlipat ganda dalam waktu sekitar 20 menit di kondisi yang tepat.

Aturan waktunya jelas. Jangan biarkan makanan matang di suhu ruang lebih dari 2 jam. Segera dinginkan semua makanan matang dan bahan yang mudah rusak, sebaiknya di bawah 5°C. Jaga makanan matang tetap panas di atas 60°C sebelum disajikan. Jangan menyimpan makanan terlalu lama meski di dalam kulkas. Jangan mencairkan makanan beku di suhu ruang.

Ada 1 pengecualian yang relevan untuk Indonesia. CDC menetapkan batas waktunya turun jadi 1 jam kalau makanan terpapar suhu di atas 32°C. Suhu siang hari di banyak kota Indonesia berada di kisaran itu, terutama di dapur yang panas atau saat hajatan di halaman rumah.

Tabel 3. Batas waktu makanan matang di luar kulkas

Kondisi suhu sekitar Batas waktu aman Acuan
Suhu ruang normal, di bawah 32°C Maksimal 2 jam WHO, USDA, CDC
Suhu panas, di atas 32°C Maksimal 1 jam CDC
Disajikan panas di atas 60°C Aman selama suhu dipertahankan WHO
Disimpan di kulkas di bawah 5°C Pertumbuhan bakteri melambat WHO, FDA

Panci opor yang kamu tinggal di meja makan dari jam 12 siang sampai jam 6 sore menghabiskan 6 jam di zona bahaya. Memanaskannya ulang tidak menyelesaikan masalah, karena sebagian racun bakteri tahan panas dan tidak hilang meski makanan mendidih.

Cara mempercepat pendinginan tanpa merusak kulkas: bagi makanan ke wadah dangkal dalam porsi kecil, biarkan uap panasnya keluar sekitar 20 sampai 30 menit, lalu masukkan kulkas. Wadah dangkal mendinginkan jauh lebih cepat dibanding panci besar.

Kulkas yang disetel terlalu hangat membuat semua usaha di atas jadi sia-sia. Cek suhu kulkas yang tepat untuk menyimpan makanan dan cara mengukurnya tanpa alat mahal.

Kunci 5: Gunakan Air dan Bahan Baku yang Aman

WHO merinci 5 poin di kunci ini: gunakan air aman atau olah dulu supaya aman, pilih bahan pangan segar, pilih produk yang diproses untuk keamanan seperti susu pasteurisasi, cuci buah dan sayur terutama yang dimakan mentah, dan jangan pakai bahan yang sudah lewat tanggal kedaluwarsa.

Kemenkes menambahkan detail yang menyesuaikan kondisi Indonesia: periksa bahan sebelum diolah dan gunakan air matang untuk memasak. Untuk lalapan, selada, dan buah potong yang dimakan tanpa dimasak, cuci dengan air matang, bukan air keran mentah.

Untuk pangan olahan kemasan, BPOM punya panduan singkat bernama Cek KLIK. Isinya cek kemasan, cek label, cek izin edar, dan cek kedaluwarsa. Cek kemasan berarti memastikan kaleng tidak penyok, menggelembung, atau bocor. Cek izin edar bisa kamu lakukan lewat situs cekbpom.pom.go.id atau aplikasi BPOM Mobile.

Bagian label yang paling sering disalahpahami adalah tabel informasi nilai gizi dan klaim di depan kemasan. Panduannya ada di cara membaca label gizi kemasan.

Perlukah Mencuci Ayam Mentah Sebelum Dimasak?

Ini pertanyaan yang jawabannya berbeda antara panduan internasional dan kebiasaan dapur Indonesia, jadi layak dibahas terpisah.

Posisi CDC tegas: ayam mentah siap dimasak dan tidak perlu dicuci lebih dulu. Menurut studi USDA, 1 dari 7 orang yang sudah membersihkan wastafelnya setelah mencuci ayam ternyata masih meninggalkan kuman di wastafel itu. Alasannya percikan air membawa Campylobacter dan Salmonella ke wastafel, meja, peralatan, sampai bahan makanan lain di dekatnya.

Masalahnya, ayam yang kamu beli di pasar tradisional sering masih ada sisa bulu, darah, atau kotoran yang secara fisik memang perlu dibersihkan. Panduan CDC ditulis untuk konteks ayam kemasan supermarket yang sudah bersih dari pabrik.

CDC sendiri menyediakan jalan tengah untuk situasi seperti ini. Kalau kamu memilih tetap mencuci ayam, lakukan seaman mungkin: alirkan air pelan-pelan supaya percikannya minim, langsung bersihkan wastafel dan area sekitarnya dengan air panas bersabun lalu sanitasi, dan cuci tangan selama 20 detik.

Tambahan praktis yang bisa kamu terapkan: cuci ayam di dalam baskom terpisah, bukan langsung di bawah keran, supaya percikan air tidak menyebar. Keringkan dengan tisu dapur sekali pakai dan langsung buang tisunya. Setelah itu bersihkan baskom, wastafel, dan tangan.

Prinsip yang perlu kamu pegang: yang membunuh bakteri di ayam adalah proses memasaknya sampai 74°C, bukan proses mencucinya. Mencuci hanya membersihkan kotoran yang terlihat.

Kesalahan Keamanan Pangan yang Paling Sering Terjadi di Rumah

1. Nasi ditinggal di rice cooker mode warm seharian, atau di meja semalaman. Food Standards Agency Inggris menjelaskan mekanismenya: beras mentah bisa mengandung spora Bacillus cereus yang tahan proses memasak. Makin lama nasi matang dibiarkan di suhu ruang, makin besar kemungkinan bakteri atau racunnya membuat nasi tidak aman dimakan. FSA menyarankan menyimpan nasi di kulkas maksimal 1 hari sebelum dipanaskan ulang, dan jangan memanaskan ulang nasi lebih dari 1 kali.

Perlu dicatat, panduan lembaga berbeda soal durasi ini. FSA memakai batas 1 hari, sementara beberapa panduan penyuluhan universitas di Amerika Serikat menyebut angka yang lebih longgar. Kalau kamu ragu, pakai patokan yang lebih ketat.

2. Mencicipi masakan pakai sendok yang langsung dicelup lagi. Bakteri dari mulut berpindah ke seluruh panci. Sediakan sendok cicip terpisah atau tuang sedikit ke piring kecil.

3. Satu lap dapur untuk semua keperluan. Lap yang dipakai mengeringkan tangan setelah memegang ayam mentah lalu dipakai mengelap meja makan adalah jalur kontaminasi silang yang sempurna.

4. Membiarkan panci besar dingin sendiri sebelum masuk kulkas. Panci besar butuh berjam-jam untuk turun suhunya, dan sepanjang itu isinya duduk di zona bahaya. Pindahkan ke wadah dangkal.

5. Memanaskan makanan yang sama berkali-kali. Setiap siklus panas dan dingin memberi bakteri kesempatan tumbuh. Ambil porsi yang mau dimakan, panaskan bagian itu saja.

6. Mengandalkan bau dan penampilan. Bakteri patogen penyebab keracunan pangan umumnya tidak mengubah bau, rasa, atau tampilan makanan. Bau busuk berasal dari bakteri pembusuk yang jenisnya berbeda.

7. Mencairkan daging beku di suhu ruang. WHO menyebutnya secara eksplisit sebagai hal yang harus dihindari. Permukaan daging masuk zona bahaya sementara bagian tengahnya masih beku.

Ada 3 metode pencairan yang direkomendasikan lembaga resmi, lengkap dengan estimasi waktunya. Rinciannya di cara mencairkan daging beku yang aman.

8. Menyimpan sayur bersama daging mentah di laci yang sama. Selain risiko kontaminasi, sayur juga lebih cepat rusak. Panduan penyimpanannya ada di artikel menyimpan sayur agar tidak cepat layu.

Rantai Keamanan Pangan dari Belanja Sampai Meja Makan

Kelima kunci di atas jadi lebih mudah dijalankan kalau kamu memetakannya ke urutan aktivitas harian.

Tabel 4. Checklist keamanan pangan per tahap

Tahap Yang perlu kamu lakukan
Belanja Terapkan Cek KLIK untuk produk kemasan, ambil bahan beku dan dingin di urutan terakhir, pisahkan daging mentah dari bahan lain di kantong belanja
Pulang ke rumah Masukkan bahan dingin dan beku ke kulkas dalam 2 jam, atau 1 jam kalau cuaca sedang panas
Menyimpan Daging mentah di rak paling bawah dalam wadah tertutup, makanan matang di rak atas, bagi jadi porsi masak
Menyiapkan Cuci tangan 20 detik, pakai talenan terpisah, cuci sayur dan buah dengan air matang untuk yang dimakan mentah
Memasak Capai suhu internal sesuai jenis bahan, minimal 70°C untuk masakan berkuah
Menyajikan Sajikan segera, jaga di atas 60°C kalau harus menunggu, batasi 2 jam di suhu ruang
Sisa makanan Dinginkan di wadah dangkal, masukkan kulkas dalam 2 jam, panaskan ulang sekali saja sampai 74°C

 

Kelompok yang Perlu Aturan Lebih Ketat

Kalau di rumah kamu ada anggota keluarga dari kelompok berikut, batas toleransinya lebih sempit dan sebaiknya kamu pakai patokan yang paling konservatif.

FoodSafety.gov, yang dikelola bersama oleh USDA, FDA, dan CDC, mendaftar 4 kelompok berisiko tinggi: orang dewasa berusia 65 tahun ke atas, anak di bawah 5 tahun, orang dengan sistem imun yang melemah karena penyakit atau pengobatan, dan ibu hamil.

Alasannya berbeda per kelompok. Anak di bawah 5 tahun berisiko tinggi karena sistem imunnya masih berkembang, dan produksi asam lambungnya lebih sedikit sehingga bakteri berbahaya lebih mudah lolos. Karena tubuh mereka kecil, muntah dan diare akibat keracunan pangan bisa cepat berujung dehidrasi berat.

WHO menambahkan anjuran khusus untuk kelompok ini: makanan untuk bayi, anak kecil, dan orang dengan imunitas rendah sebaiknya dimasak segar dan tidak disimpan setelah matang.

Informasi di artikel ini bersifat umum. Kalau kamu atau anggota keluarga mengalami gejala keracunan makanan seperti muntah berulang, diare berat, diare berdarah, atau demam tinggi, segera hubungi tenaga kesehatan. Untuk anak kecil dan lansia, jangan menunggu gejalanya membaik sendiri.

Yang Bisa Kamu Harapkan Setelah Menerapkannya

Menerapkan 5 kunci ini tidak menghilangkan risiko sampai nol. Yang berubah adalah frekuensi dan tingkat keparahannya.

Sebagian besar perubahannya juga tidak menuntut alat baru. Cuci tangan 20 detik, talenan terpisah, wadah dangkal untuk sisa makanan, dan disiplin batas 2 jam sudah menutup sebagian besar celah yang tercatat di data KLB. Satu investasi yang layak dipertimbangkan adalah termometer daging, karena itu satu-satunya cara memastikan suhu internal tanpa menebak.

Yang perlu kamu terima juga, sebagian panduan di atas berasal dari lembaga di negara dengan rantai pasok dan iklim berbeda. Angka 2 jam versi WHO, misalnya, jadi lebih ketat di Indonesia karena suhu ruangnya lebih tinggi. Ambil prinsipnya, sesuaikan angkanya ke kondisi paling ketat.

FAQ

Apa saja 5 kunci keamanan pangan rumah tangga? Versi WHO yang juga dipakai Kementerian Kesehatan terdiri dari jaga kebersihan, pisahkan pangan mentah dan matang, masak sampai matang, simpan pada suhu aman, serta gunakan air dan bahan baku yang aman. BPOM memakai versi lain yang urutannya mengikuti aktivitas konsumen: beli pangan aman, simpan dengan aman, siapkan dengan seksama, sajikan dengan aman, dan jaga kebersihan selalu. Keduanya berisi prinsip yang sama dengan sudut pandang berbeda.

Berapa lama makanan matang boleh dibiarkan di suhu ruang? WHO menetapkan batas 2 jam untuk suhu ruang normal. CDC menurunkan batasnya jadi 1 jam kalau makanan terpapar suhu di atas 32°C, kondisi yang sering terjadi di Indonesia saat siang hari. Lewat dari batas itu, memanaskan ulang tidak membuat makanan aman kembali karena sebagian racun bakteri tahan panas.

Apakah ayam mentah perlu dicuci sebelum dimasak? CDC menyatakan ayam mentah tidak perlu dicuci karena percikan air menyebarkan bakteri ke wastafel, meja, dan bahan makanan lain. Studi USDA menemukan 1 dari 7 orang yang sudah membersihkan wastafel setelah mencuci ayam masih meninggalkan kuman di sana. Kalau ayam dari pasar masih kotor dan perlu dibersihkan, gunakan baskom terpisah, alirkan air pelan-pelan, lalu bersihkan area dan tangan setelahnya.

Berapa suhu masak yang aman untuk daging dan ayam? USDA menetapkan 74°C untuk semua jenis unggas, 71°C untuk daging giling dan olahan telur, serta 63°C untuk potongan daging utuh dengan waktu istirahat 3 menit. WHO memakai patokan tunggal 70°C untuk masakan pada umumnya dan menyarankan mendidihkan makanan berkuah. Warna daging dan warna cairannya bukan indikator kematangan yang akurat.

Kenapa keracunan makanan lebih sering berasal dari masakan rumah? Data SPIMKer BPOM periode 2023 mencatat 53% kasus KLB keracunan pangan berasal dari masakan rumah tangga. Titik lemahnya umumnya ada pada tahap setelah masak, yaitu makanan dibiarkan terlalu lama di suhu ruang, disimpan tanpa pendinginan cepat, atau dipanaskan berulang. Dapur rumah juga tidak punya prosedur baku dan pengawasan seperti industri pangan.

Cek Dulu Suhu dan Waktunya, Baru Sajikan

Dari semua yang dibahas di atas, 1 kebiasaan yang paling besar dampaknya adalah membatasi waktu makanan matang di suhu ruang. Kalau kamu cuma mau mengubah 1 hal setelah membaca artikel ini, pilih ini: pasang timer 2 jam setiap kali makanan selesai dimasak dan diletakkan di meja, lalu masukkan sisanya ke wadah dangkal dan ke kulkas sebelum timer berbunyi.

Perlu kamu catat, angka-angka di atas berlaku untuk kondisi umum. Kalau di rumah ada balita, ibu hamil, lansia, atau anggota keluarga yang sedang menjalani pengobatan yang menekan imunitas, pakai patokan paling ketat dan hindari menyimpan makanan matang untuk mereka. Panduan resmi juga bisa direvisi, jadi sesekali cek ulang laman BPOM dan Ayo Sehat Kemenkes untuk versi terbaru.

Bagikan artikel ini ke orang tersayang supaya mereka juga cek dulu sebelum menyajikan.

Leave a Comment

Previous

Cara Menyimpan Sisa Makanan Agar Tidak Cepat Basi dan Aman Dimakan

Next

Suhu Kulkas yang Tepat untuk Menyimpan Makanan di Rumah