Penyebab Collagen Menurun Setelah Usia 25

Ada perubahan menarik dalam cara banyak orang melihat kesehatan kulit beberapa tahun terakhir. Fokusnya mulai bergeser dari sekadar “cerah instan” menjadi kualitas kulit jangka panjang. Orang mulai memperhatikan tekstur kulit, elastisitas, hidrasi, hingga bagaimana kulit

Written by: orangbilang

Published on: 23/05/2026

Ada perubahan menarik dalam cara banyak orang melihat kesehatan kulit beberapa tahun terakhir. Fokusnya mulai bergeser dari sekadar “cerah instan” menjadi kualitas kulit jangka panjang. Orang mulai memperhatikan tekstur kulit, elastisitas, hidrasi, hingga bagaimana kulit bereaksi terhadap stres, polusi, dan gaya hidup modern.

Di tengah tren itu, satu istilah yang semakin sering muncul adalah collagen.

Banyak orang baru sadar pentingnya kolagen ketika mulai muncul garis halus, kulit terasa lebih kering, atau wajah tampak lebih cepat lelah dibanding beberapa tahun sebelumnya. Menariknya, perubahan itu sering mulai terasa di usia akhir 20-an, bahkan ketika rutinitas skincare sudah cukup konsisten.

Fenomena ini sebenarnya berkaitan dengan proses biologis alami tubuh.

Produksi kolagen memang tidak stabil selamanya. Setelah usia tertentu, tubuh mulai mengalami perlambatan dalam kemampuan memproduksi dan mempertahankan kolagen secara optimal. Dalam banyak pembahasan kesehatan kulit, usia 25 sering disebut sebagai titik awal perlambatan tersebut, dengan penurunan bertahap sekitar 1% per tahun.

Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan collagen tubuh mulai menurun setelah usia 25?

Apa Itu Collagen dan Kenapa Penting untuk Kulit?

Collagen adalah protein struktural utama yang terdapat pada kulit, tulang, sendi, hingga jaringan ikat tubuh. Pada kulit, kolagen berperan menjaga elastisitas, kepadatan, kelembapan alami, dan kekuatan skin barrier.

Ketika produksi kolagen masih optimal, kulit biasanya terasa lebih kenyal, lembap, dan tampak sehat secara natural.

Masalahnya, tubuh tidak memproduksi kolagen dalam jumlah yang sama sepanjang hidup. Seiring bertambahnya usia, proses regenerasi mulai melambat. Tubuh juga menjadi lebih rentan terhadap stres oksidatif, inflamasi, dan kerusakan akibat lingkungan. Kombinasi inilah yang perlahan memengaruhi kualitas kulit dari dalam.

Kenapa Penurunan Collagen Mulai Terjadi Setelah Usia 25?

Usia 25 bukan angka “ajaib” yang langsung membuat kulit berubah drastis dalam semalam. Prosesnya gradual dan sering kali tidak terasa di awal.

Namun secara biologis, tubuh memang mulai memasuki fase perlambatan regenerasi setelah pertengahan usia 20-an. Sel fibroblast yang bertugas mensintesis kolagen baru mulai berkurang aktivitasnya. Kualitas serat kolagen yang terbentuk pun tidak seoptimal sebelumnya. Proses perbaikan jaringan kulit melambat, hidrasi alami mulai berkurang, dan elastisitas kulit tidak seresponsif usia remaja.

Pada sebagian orang, perubahan ini baru terasa jelas di usia 30-an. Pada sebagian lainnya, tanda-tandanya muncul lebih awal karena dipengaruhi gaya hidup dan paparan lingkungan.

Faktor Utama Penyebab Collagen Tubuh Menurun

1. Proses Aging Alami

Penyebab paling mendasar adalah penuaan biologis itu sendiri.

Sel fibroblast yang bertugas memproduksi kolagen perlahan menjadi kurang aktif seiring waktu. Akibatnya, produksi kolagen baru tidak secepat saat usia remaja atau awal 20-an. Ini yang menyebabkan kulit mulai lebih mudah kehilangan kelembapan, tampak kurang plump, muncul garis halus, hingga terasa kurang elastis.

Proses ini tidak bisa dihentikan sepenuhnya, tapi dapat diperlambat dengan pendekatan yang tepat.

2. Paparan Sinar UV

Paparan matahari berlebihan dapat memicu pembentukan radikal bebas yang merusak struktur kolagen dan elastin di lapisan dermis. Ketika sinar UV menembus kulit, ia memicu aktivasi enzim yang secara langsung mendegradasi serat kolagen. Proses ini dikenal sebagai photoaging, dan efeknya bersifat kumulatif, menumpuk selama bertahun-tahun bahkan sejak usia muda.

Efeknya sering muncul dalam bentuk kulit kusam, warna tidak merata, flek akibat matahari, tekstur kasar, hingga kerutan yang muncul lebih cepat dari seharusnya.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Clinical, Cosmetic and Investigational Dermatology menunjukkan bahwa paparan sinar UV berkaitan langsung dengan peningkatan kadar melanin dan percepatan kerusakan kulit. Karena itu, sunscreen sering dianggap sebagai salah satu bagian paling fundamental dalam menjaga kualitas kulit jangka panjang.

3. Polusi dan Radikal Bebas

Lingkungan modern membuat kulit terus terpapar stres oksidatif.

Polusi udara, asap kendaraan, debu, hingga partikel mikro dapat memicu produksi radikal bebas dalam tubuh. Ketika jumlah radikal bebas terlalu tinggi, tubuh mengalami kondisi yang disebut oxidative stress. Kondisi ini berkaitan dengan percepatan penuaan kulit, inflamasi ringan kronis, kerusakan struktur kolagen, dan penurunan skin barrier.

Tidak heran jika orang yang tinggal di kota besar sering mengalami kulit lebih mudah kusam atau tampak lelah, meski usia masih relatif muda.

4. Gaya Hidup dan Kurang Tidur

Kulit punya hubungan erat dengan kualitas hidup sehari-hari.

Kurang tidur, stres berkepanjangan, dan kebiasaan begadang dapat memengaruhi proses regenerasi tubuh secara signifikan. Saat tubuh mengalami stres kronis, kadar hormon kortisol meningkat. Kortisol yang terlalu tinggi dalam jangka panjang berkaitan dengan percepatan pemecahan kolagen dan perlambatan sintesis kolagen baru. Tidur sendiri adalah fase penting untuk perbaikan jaringan kulit, dan ketika recovery tidak cukup, produksi kolagen ikut terdampak.

Orang dengan pola tidur buruk sering mengalami kulit lebih cepat kusam, area mata tampak lelah, hingga tanda aging yang muncul lebih awal dari usia biologisnya.

5. Konsumsi Gula Berlebih dan Glycation

Ini faktor yang cukup jarang dibahas, tapi relevan secara biologis.

Konsumsi gula berlebih dapat memicu proses yang disebut glycation, yaitu kondisi ketika molekul gula menempel pada serat protein, termasuk kolagen. Hasilnya, serat kolagen menjadi lebih kaku, rapuh, dan kehilangan fleksibilitasnya. Kulit yang mengalami glycation sering terasa lebih keras, kurang elastis, dan tampak lebih dull secara keseluruhan.

Proses ini berlangsung perlahan dan akumulatif, sehingga efeknya baru terasa setelah bertahun-tahun pola makan tinggi gula dipertahankan.

6. Konsumsi Rokok dan Alkohol

Zat kimia dalam rokok dapat merusak aliran darah ke kulit dan mempercepat degradasi kolagen. Efeknya sering terlihat pada kulit yang tampak lebih tipis, kusam, dan kehilangan elastisitas lebih cepat dari usia biologisnya.

Alkohol juga dapat memengaruhi hidrasi tubuh dan memperburuk stres oksidatif. Karena itu, banyak pembahasan healthy aging selalu mengaitkan kualitas kulit dengan kebiasaan hidup sehari-hari, tidak hanya dengan rutinitas skincare.

7. Kurang Nutrisi Pendukung Collagen

Tubuh membutuhkan berbagai nutrisi untuk membantu pembentukan kolagen, seperti protein, Vitamin C, zinc, antioksidan, dan asam amino tertentu.

Vitamin C, misalnya, kerap digunakan dalam formulasi yang berkaitan dengan sintesis kolagen karena terlibat langsung dalam pembentukan struktur collagen di tingkat seluler. Jika asupan nutrisi tidak optimal, proses produksi kolagen juga bisa ikut terganggu, bahkan pada usia yang relatif muda.

Tanda-Tanda Collagen Mulai Menurun

Penurunan collagen biasanya tidak langsung ekstrem. Tanda-tandanya muncul perlahan dan sering dianggap “kulit lagi capek” atau diatasi hanya dengan tambahan skincare.

Beberapa tanda yang cukup umum antara lain kulit terasa lebih kering dan kurang kenyal, makeup lebih sulit menempel merata, garis halus mulai terlihat di area ekspresi, tekstur permukaan kulit terasa tidak sehalus sebelumnya, skin barrier lebih mudah reaktif, dan wajah tampak kurang fresh meski sudah cukup tidur.

Perubahan-perubahan ini biasanya mulai disadari di usia pertengahan 20-an hingga awal 30-an, dan semakin terasa jika faktor gaya hidup dan paparan lingkungan ikut berperan.

Apakah Skincare Saja Cukup?

Ini pertanyaan yang cukup sering muncul, dan jawabannya cukup nuanced.

Skincare bekerja di lapisan permukaan kulit. Moisturizer membantu menjaga hidrasi epidermal, sunscreen melindungi dari UV, dan serum antioksidan dapat membantu meminimalkan kerusakan akibat radikal bebas. Semua itu penting dan tetap relevan.

Tapi kualitas kulit juga sangat dipengaruhi kondisi internal tubuh. Skin barrier yang sehat, misalnya, tidak hanya bergantung pada produk topikal. Nutrisi yang masuk, kualitas tidur, kadar stres, dan kondisi sistem imun semuanya berkontribusi pada seberapa baik kulit bisa mempertahankan diri dari dalam.

Karena itulah pendekatan yang sering disebut sebagai inside-out beauty mulai banyak dibicarakan dalam konteks kesehatan kulit modern: kombinasi antara perawatan luar dan dukungan dari dalam, bukan salah satunya saja.

Kenapa Supplement Collagen seperti DVN Mulai Banyak Dibahas?

Kesadaran tentang healthy aging membuat banyak orang mulai mempertimbangkan suplementasi collagen sebagai bagian dari rutinitas, bukan sebagai solusi instan.

Beberapa tahun terakhir, istilah seperti collagen peptide dan collagen tripeptide semakin sering muncul dalam industri wellness dan beauty. Salah satu alasannya karena bentuk-bentuk kolagen tertentu dinilai memiliki ukuran molekul yang lebih kecil, sehingga mulai banyak diperhatikan dalam diskusi seputar bioavailabilitas dan kemudahan penyerapan tubuh.

Studi yang dipublikasikan oleh Hausenblas et al. (2014) menemukan bahwa suplementasi yang mengandung collagen dan resveratrol selama enam bulan pada 29 partisipan berkaitan dengan penurunan tampilan pori-pori dan bintik hitam. Sementara penelitian yang dimuat dalam Clinical, Cosmetic and Investigational Dermatology (Weschawalit et al., 2017) menunjukkan bahwa konsumsi glutathione selama 12 minggu secara signifikan berkaitan dengan penurunan kadar melanin akibat paparan sinar matahari pada wanita usia 20-50 tahun.

Temuan-temuan seperti ini yang mendorong formulasi supplement modern mulai menggabungkan collagen dengan antioksidan dan dukungan hidrasi dalam satu pendekatan yang lebih komprehensif.

DVN Collagen adalah salah satu formulasi yang menggunakan pendekatan ini. Berbentuk tablet kunyah, DVN mengombinasikan Collagen Tripeptide, Fish Hydrolysed Collagen, L-Glutathione, Viqua Pomegranate Extract, Japanese Knotweed Extract (Resveratrol), dan Vitamin C dalam satu formula yang diarahkan untuk membantu mendukung struktur kulit, hidrasi, dan perlindungan terhadap stres oksidatif secara bersamaan.

Peran Antioksidan dalam Formula DVN dan Kualitas Kulit

Selain collagen, antioksidan punya peran penting yang sering kurang dibahas.

Radikal bebas dari UV, polusi, dan stres oksidatif dapat mempercepat kerusakan sel kulit. Karena itu, banyak formulasi modern mulai mempertimbangkan kombinasi collagen dengan kandungan antioksidan. Dalam konteks ini, DVN memilih pendekatan multi-antioksidan dengan menggabungkan L-Glutathione, Resveratrol dari Japanese Knotweed Extract, dan Viqua Pomegranate Extract dalam satu formula.

L-Glutathione banyak dibahas dalam konteks kecerahan kulit karena karakteristiknya yang berkaitan dengan regulasi melanin. Resveratrol sering dikaitkan dengan perlindungan terhadap radikal bebas dan membantu menjaga integritas sel kulit. Sementara Viqua Pomegranate Extract, yang menggunakan bahan baku berpatent dari Spanyol, kerap digunakan dalam formulasi yang diarahkan untuk membantu menutrisi sel kulit dan memperkuat skin barrier.

Pendekatan kombinasi seperti ini terasa lebih relevan dengan kondisi kulit modern yang setiap hari terpapar stres lingkungan.

Healthy Aging dan Ekspektasi yang Realistis

Satu hal yang mulai berubah dalam industri beauty modern adalah cara orang memandang aging.

Dulu, aging sering diposisikan sebagai sesuatu yang harus “dilawan”. Sekarang, banyak orang lebih fokus pada healthy aging: mempertahankan kualitas kulit, menjaga hidrasi, membantu skin barrier tetap sehat, dan mendukung regenerasi alami tubuh seiring waktu.

Kulit yang sehat biasanya tidak datang dari satu produk tunggal atau hasil instan. Faktor gaya hidup, nutrisi, proteksi UV, hidrasi, dan konsistensi perawatan semuanya punya kontribusi terhadap kondisi kulit jangka panjang. Supplement, jika digunakan, lebih tepat dipandang sebagai bagian dari sistem pendukung yang lebih besar, bukan sebagai solusi tunggal.

Ekspektasi yang realistis justru menjadi fondasi yang lebih kuat untuk perawatan kulit yang berkelanjutan.

FAQ

Kenapa usia 25 sering disebut sebagai titik awal collagen menurun?

Usia 25 bukan angka yang bersifat absolut, tapi secara biologis tubuh memang mulai memasuki fase perlambatan regenerasi setelah pertengahan usia 20-an. Aktivitas sel fibroblast yang memproduksi kolagen mulai berkurang, dan proses ini berlangsung gradual. Banyak pembahasan kesehatan kulit menyebut angka ini sebagai titik referensi umum, dengan penurunan sekitar 1% per tahun.

Apakah collagen bisa habis total?

Tidak habis total, tapi kualitas dan kuantitasnya terus menurun seiring waktu. Yang lebih relevan untuk diperhatikan adalah kualitas serat kolagen, bukan hanya jumlahnya. Kolagen yang mengalami glycation atau kerusakan akibat radikal bebas menjadi kurang fungsional meski secara kuantitas masih ada.

Apakah begadang mempercepat penuaan kulit?

Cukup berpengaruh. Tidur adalah fase utama regenerasi jaringan kulit. Kurang tidur berkaitan dengan peningkatan kortisol yang dapat mempercepat pemecahan kolagen. Dalam jangka panjang, pola tidur buruk sering dikaitkan dengan tanda aging yang muncul lebih cepat.

Apa hubungan stres dengan collagen?

Stres kronis meningkatkan kadar kortisol dalam tubuh. Kortisol yang tinggi secara konsisten berkaitan dengan percepatan degradasi kolagen dan perlambatan sintesis kolagen baru. Ini salah satu alasan kenapa kondisi kulit sering ikut memburuk saat seseorang mengalami stres berkepanjangan.

Apakah sunscreen membantu menjaga elastisitas kulit?

Ya. Paparan UV adalah salah satu faktor eksternal terbesar yang mempercepat kerusakan kolagen dan elastin di lapisan dermis. Sunscreen membantu membatasi paparan tersebut, sehingga proses photoaging bisa diperlambat. Efeknya mungkin tidak langsung terasa, tapi signifikan secara jangka panjang.

Apa beda collagen peptide dan collagen tripeptide?

Keduanya adalah bentuk kolagen yang sudah dipecah menjadi molekul lebih kecil agar lebih mudah diserap tubuh. Perbedaannya ada di ukuran molekul: collagen tripeptide memiliki rantai yang lebih pendek, terdiri dari tiga asam amino, dan kerap muncul dalam diskusi seputar bioavailabilitas yang lebih tinggi dibanding collagen peptide biasa.

Apakah konsumsi gula memengaruhi kolagen?

Ya, melalui proses yang disebut glycation. Gula berlebih dapat menempel pada serat kolagen dan membuatnya menjadi kaku serta kurang elastis. Ini salah satu alasan kenapa pola makan tinggi gula cukup sering dikaitkan dengan percepatan penuaan kulit dalam jangka panjang.

Apa fungsi Vitamin C untuk collagen?

Vitamin C terlibat langsung dalam proses sintesis kolagen di tingkat seluler dan cukup sering dikaitkan dengan perlindungan kulit dari stres oksidatif. Kekurangan Vitamin C dapat mengganggu kemampuan tubuh memproduksi kolagen secara optimal.

Apa itu DVN Collagen dan untuk siapa produk ini cocok?

DVN Collagen adalah supplement collagen berbentuk tablet kunyah yang diformulasikan untuk membantu menjaga kesehatan kulit dari dalam. Kandungannya meliputi Collagen Tripeptide, Fish Hydrolysed Collagen, L-Glutathione, Viqua Pomegranate Extract, Japanese Knotweed Extract (Resveratrol), dan Vitamin C. Produk ini dianjurkan untuk usia 12 tahun ke atas, dan cocok untuk mereka yang ingin menjaga struktur kulit, elastisitas, kelembapan, serta membantu melindungi kulit dari stres oksidatif sehari-hari.

Apakah DVN Collagen sudah terdaftar BPOM?

Ya, DVN telah terdaftar di BPOM dengan nomor registrasi SD235042031, dan telah melalui uji logam berat serta bahan kimia berbahaya.

Kesimpulan

Penurunan collagen setelah usia 25 adalah proses biologis alami yang terjadi secara bertahap. Usia memang punya pengaruh besar, tapi lingkungan dan gaya hidup modern juga ikut mempercepat prosesnya.

Paparan UV, polusi, stres, kurang tidur, rokok, konsumsi gula berlebih, hingga pola makan yang kurang seimbang dapat memengaruhi kualitas kulit dan mempercepat degradasi collagen lebih cepat dari seharusnya.

Karena itu, menjaga kesehatan kulit hari ini semakin sering dipandang sebagai kombinasi antara perawatan luar dan dukungan dari dalam. Supplement seperti DVN Collagen, yang menggabungkan collagen dengan antioksidan dalam satu formula, merupakan salah satu bentuk pendekatan tersebut. Bukan sebagai solusi tunggal, melainkan sebagai bagian dari sistem perawatan yang lebih menyeluruh.

Pada akhirnya, menjaga collagen bukan soal menghentikan aging. Melainkan membantu kulit tetap berada dalam kondisi terbaiknya, di usia berapa pun.

Di Mana Bisa Mendapatkan DVN Collagen?

DVN Collagen tersedia melalui distributor dan partner resmi Wellous Indonesia.

Untuk informasi produk, cara konsumsi, atau pembelian melalui distributor resmi, kamu bisa menghubungi WhatsApp berikut:

WhatsApp: 08116923559

Leave a Comment

Previous

Apa Itu Collagen Tripeptide dan Bedanya dengan Collagen Biasa?

Next

Apakah Glutathione Benar Bisa Membantu Brightening Kulit? Ini Penjelasan yang Lebih Realistis