Cara Membuat Lubang Biopori di Rumah dan Perawatannya

Kalau halaman rumah kamu selalu becek berhari-hari setelah hujan dan tempat sampah dapur cepat penuh sampai bau, satu lubang kecil bisa menyelesaikan dua masalah itu sekaligus. Cara membuat lubang biopori sebenarnya sederhana: bor tanah tegak

Written by: orangbilang

Published on: 02/09/2026

Kalau halaman rumah kamu selalu becek berhari-hari setelah hujan dan tempat sampah dapur cepat penuh sampai bau, satu lubang kecil bisa menyelesaikan dua masalah itu sekaligus. Cara membuat lubang biopori sebenarnya sederhana: bor tanah tegak lurus dengan diameter 10 cm sedalam 100 cm, perkuat mulut lubangnya, isi dengan sampah organik, lalu tutup dengan saringan. Satu lubang biasanya selesai dalam 20 sampai 30 menit kalau tanahnya sudah disiram lebih dulu.

Yang jarang dibahas adalah bagian setelahnya. Lubang biopori yang dibiarkan tanpa isi ulang akan menyusut dan kehilangan fungsinya dalam hitungan minggu. Artikel ini mengurai keduanya: langkah pembuatan yang mengacu ke aturan resmi, dan jadwal perawatan yang bikin lubangnya tetap bekerja bertahun-tahun.

Kenapa Halaman Rumah Kamu Butuh Lubang Resapan Biopori

Lubang Resapan Biopori (LRB) adalah lubang silindris vertikal yang dibuat ke dalam tanah untuk meresapkan air hujan sekaligus mengolah sampah organik. Konsepnya dikembangkan Dr. Ir. Kamir Raziudin Brata dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan IPB, dan mulai dikenal luas setelah banjir besar Jakarta 2007 ketika media mencari solusi resapan yang murah dan bisa dikerjakan warga sendiri.

Istilah “biopori” sendiri merujuk pada rongga alami di dalam tanah yang terbentuk dari aktivitas cacing, rayap, semut, dan akar tanaman. Rongga itulah yang jadi jalur air masuk ke tanah. Lubang yang kamu bor cuma pemicunya: sampah organik di dalamnya menarik biota tanah untuk datang dan membuat terowongan kecil di sekitarnya.

Ada dasar hukumnya juga. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 12 Tahun 2009 tentang Pemanfaatan Air Hujan menyatakan setiap penanggung jawab bangunan wajib memanfaatkan air hujan, dengan salah satu pilihannya berupa lubang resapan biopori. Aturan yang sama mendefinisikan LRB sebagai lubang tegak lurus berdiameter 10 sampai 25 cm dengan kedalaman sekitar 100 cm atau tidak melebihi kedalaman muka air tanah.

Konteksnya masuk akal kalau kamu lihat angka curah hujan. Lampiran Permen LH 12/2009 menyebut curah hujan di wilayah Indonesia berkisar 2.000 sampai 4.000 mm per tahun. Air sebanyak itu jatuh ke halaman yang sebagian besar sudah tertutup cor, paving, atau keramik, lalu mengalir ke selokan tanpa sempat meresap.

Cek Dulu: Apakah Halaman Kamu Cocok untuk Biopori

Sebelum beli bor, pastikan lokasinya memenuhi syarat. Permen LH 12/2009 menetapkan LRB diperuntukkan bagi daerah sekitar permukiman, taman, halaman parkir, sekitar pohon, dan area yang dilewati aliran air hujan.

Aturan yang sama juga memuat pengecualian penting: kewajiban membuat sumur resapan dan lubang resapan biopori dikecualikan pada kawasan karst, rawa, dan gambut. Kalau rumah kamu berada di salah satu tipe lahan itu, biopori bukan pilihan yang tepat dan kamu perlu mempertimbangkan kolam pengumpul air hujan.

Beberapa hal lain yang perlu kamu periksa di lokasi:

  • Muka air tanah. Kalau air tanah di daerah kamu dangkal, kedalaman lubang harus dikurangi supaya tidak menembus muka air tanah. Lubang sedalam 60 sampai 80 cm tetap berfungsi.
  • Jarak dari pondasi. Materi sosialisasi biopori dan sumur resapan dari UIN Walisongo menyebut jarak minimal 1 meter dari pondasi bangunan sebagai acuan yang aman.
  • Jarak dari sumur air bersih. Panduan Kompas Klasika dan Sustaination sama-sama mengingatkan agar lubang biopori dibuat cukup jauh dari sumur atau sumber air minum, karena isinya berupa material organik yang membusuk.
  • Jalur lalu lalang. Hindari titik yang sering diinjak, terutama kalau ada anak kecil di rumah. Penutup yang terinjak berulang kali cepat pecah.

Titik terbaik biasanya ada di tempat air memang berkumpul secara alami: dasar selokan halaman, bawah talang, area pekarangan yang lebih rendah, atau di sekitar pohon.

Berapa Lubang Biopori yang Dibutuhkan Rumah Kamu

Lampiran Permen LH 12/2009 memberi patokan yang bisa dihitung sendiri. Untuk luas tutupan bangunan 20 m2, dibutuhkan 3 unit LRB dengan volume resapan 0,25 m3 per unit. Setiap tambahan 7 m2 luas tutupan bangunan memerlukan tambahan 1 unit lubang.

Tabel di bawah adalah hasil hitungan orangbilang.id memakai rumus tersebut, dibulatkan ke atas.

Luas Tutupan Bangunan Perkiraan Jumlah Lubang Biopori Catatan
20 m2 3 lubang Angka dasar dari Lampiran Permen LH 12/2009
36 m2 6 lubang Rumah tipe kecil dengan halaman sempit
45 m2 7 lubang Rumah tipe 45 tanpa perluasan
60 m2 9 lubang Rumah dengan carport tertutup cor
90 m2 13 lubang Rumah 2 lantai dengan atap luas
120 m2 18 lubang Rumah besar atau bangunan usaha kecil

Angka ini adalah target ideal, bukan syarat mutlak sebelum kamu boleh mulai. Materi sosialisasi UIN Walisongo memberi patokan lain yang lebih longgar untuk lahan terbuka: sekitar 30 lubang untuk setiap 100 m2 bidang, dengan jarak antarlubang 0,5 sampai 1 meter.

Kalau halaman kamu cuma muat 3 lubang, buat 3 dulu. Menambahnya bisa dilakukan bertahap setiap bulan.

Alat dan Bahan yang Perlu Disiapkan

Daftarnya pendek dan sebagian mungkin sudah ada di rumah:

  • Bor biopori manual atau linggis
  • Pipa PVC 4 inci sepanjang 10 sampai 20 cm untuk memperkuat mulut lubang
  • Dop atau tutup saringan PVC 4 inci
  • Ember berisi air untuk melunakkan tanah
  • Sarung tangan kerja
  • Sampah organik dari dapur dan halaman

Permen LH 12/2009 memberi alternatif untuk penguat mulut lubang: paralon berdiameter 10 cm dengan panjang minimal 10 cm, atau adukan semen selebar 2 sampai 3 cm setebal 2 cm di sekeliling mulut lubang. Pilih yang mana saja, fungsinya sama-sama menahan tanah supaya tidak longsor ke dalam.

Berikut rentang harga hasil penelusuran orangbilang.id di marketplace Shopee, Lazada, dan Blibli pada Agustus 2026. Harga ini belum termasuk ongkos kirim dan bisa berubah sewaktu-waktu.

Item Rentang Harga (Agustus 2026) Keterangan
Bor biopori manual Rp 76.000 sampai Rp 340.000 Selisih harga mengikuti ketebalan besi dan panjang batang
Pipa PVC 4 inci potongan Rp 22.000 sampai Rp 50.000 Cukup untuk beberapa lubang kalau dipotong sendiri
Paket pipa resapan 75 cm plus dop Rp 119.000 sampai Rp 132.000 Versi siap pakai, tinggal masukkan
Dop saringan PVC 4 inci Rp 6.600 sampai Rp 18.000 Dibutuhkan 1 buah per lubang
Tutup biopori aluminium Rp 25.000 sampai Rp 30.000 Lebih tahan diinjak dibanding dop plastik

Bor manual adalah pengeluaran terbesar dan sifatnya sekali beli. Kalau kamu cuma butuh beberapa lubang, patungan dengan tetangga atau pinjam ke pengurus RT sering jadi jalan yang lebih masuk akal. Beberapa Dinas Lingkungan Hidup daerah juga meminjamkan alat bor untuk kegiatan warga.

Cara Membuat Lubang Biopori Langkah demi Langkah

Langkah berikut disusun mengikuti tata cara pada Lampiran Permen LH 12/2009 dan panduan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng.

1. Tandai titik lubang. Pilih area yang dilewati atau digenangi air hujan. Atur jarak antarlubang 50 sampai 100 cm sesuai ketentuan Permen LH 12/2009. Jarak yang terlalu rapat membuat tanah di antara lubang mudah ambles.

2. Siram tanah sampai lembap. Guyur titik lubang dengan air satu sampai dua ember, lalu tunggu sekitar 10 menit. Tanah kering, apalagi tanah liat di musim kemarau, hampir mustahil dibor tanpa langkah ini.

3. Bor tegak lurus. Putar bor searah jarum jam sambil menekan pelan. Setiap 15 sampai 20 cm, tarik bor ke atas untuk membuang tanah yang tersangkut di mata bor. Jaga posisi bor tetap vertikal, karena lubang yang miring lebih cepat runtuh.

4. Berhenti di kedalaman 100 cm. Kalau bor terasa membentur lapisan keras atau tanah mulai basah berair sebelum 100 cm, hentikan di titik itu. Menembus muka air tanah justru menghilangkan fungsi resapannya.

5. Pasang penguat mulut lubang. Masukkan potongan pipa PVC 4 inci sepanjang 10 sampai 20 cm sampai bibirnya rata dengan permukaan tanah. Kalau kamu memilih semen, buat cincin selebar 2 sampai 3 cm setebal 2 cm mengelilingi mulut lubang.

6. Isi dengan sampah organik. Masukkan sampah dapur dan daun kering sampai lubang penuh. Jangan dipadatkan. Pengisian yang terlalu padat membuat oksigen tidak masuk, dan sampah akan membusuk menghasilkan gas metana alih-alih terurai jadi kompos.

7. Tutup dengan saringan. Pasang dop saringan atau kawat kasa di mulut lubang. Penutup ini menahan orang terperosok, mencegah sampah anorganik masuk, dan menjaga lubang tidak jadi tempat nyamuk bertelur.

8. Uji dengan air. Siram lubang dengan seember air. Air yang turun perlahan dalam beberapa menit menandakan lubang bekerja. Air yang menggenang lama bisa berarti lubang kurang dalam atau tanah di lokasi itu terlalu padat.

Sampah yang Boleh dan Tidak Boleh Masuk ke Lubang Biopori

Permen LH 12/2009 menyebut isian LRB berasal dari dedaunan, pangkasan rumput dari halaman, atau sampah dapur. Praktiknya, ada beberapa material yang memicu masalah kalau dimasukkan tanpa perlakuan khusus.

Jenis Material Boleh Masuk Catatan Penting
Kulit buah dan sisa sayur Ya Isian paling ideal, cepat terurai
Daun kering dan pangkasan rumput Ya Bagus dipakai sebagai lapisan penutup
Nasi basi dan sisa makanan Ya, dengan syarat Taruh di bagian bawah lalu tutup daun kering supaya tidak bau
Tulang ayam dan duri ikan Ya, dengan syarat Terurai jauh lebih lama, jangan dominan
Kertas dan karton polos Ya Sobek kecil lebih dulu, hindari yang berlapis plastik
Minyak jelantah dan kuah berminyak Tidak Melapisi dinding lubang dan menghambat resapan air
Plastik, kaca, logam, styrofoam Tidak Tidak terurai dan menyumbat lubang permanen
Popok dan pembalut sekali pakai Tidak Mengandung gel penyerap dan bahan sintetis
Kotoran hewan peliharaan Tidak Berisiko membawa patogen ke air tanah

Trik untuk mengurangi bau: letakkan sisa makanan yang cepat busuk di bagian bawah lubang, lalu tumpuk daun kering di atasnya sebagai penyaring alami. Kombinasi bahan basah dan kering juga mempercepat proses penguraian.

Kalau kamu mulai memilah sampah untuk biopori, langkah berikutnya yang masuk akal adalah mengelola sampah dapur di rumah secara menyeluruh, karena tidak semua sampah organik cocok masuk ke lubang.

Perawatan Lubang Biopori Supaya Tidak Mampet

Bagian ini yang paling sering dilewatkan. Permen LH 12/2009 menetapkan tiga kegiatan pemeliharaan: mengisi sampah organik ke dalam lubang, menambahkannya secara berkala saat volume menyusut, dan mengambil isinya setelah menjadi kompos yang diperkirakan terjadi dalam 2 sampai 3 bulan.

Kegiatan Frekuensi Cara Melakukannya
Isi ulang sampah organik Setiap 2 sampai 5 hari Tambahkan sampah baru saat isi lubang menyusut, jangan sampai kosong
Cek dan bersihkan penutup Setiap 2 minggu Angkat dop, buang daun atau tanah yang menyumbat saringan
Siram kalau lama tidak hujan 1 kali seminggu di musim kemarau Kelembapan menjaga cacing dan mikroba tetap aktif
Panen kompos Setiap 2 sampai 3 bulan Keruk isi lubang dengan sekop kecil atau bor, lalu isi ulang
Periksa kedalaman lubang Setiap 6 bulan Masukkan tongkat ukur, bor ulang kalau menyusut lebih dari 20 cm

Kompos hasil panen bisa langsung kamu tebar di pot atau bedengan. Kalau kamu ingin hasil yang lebih terkontrol untuk tanaman tertentu, cara membuat kompos dari sampah sayuran dalam wadah terpisah memberi kendali lebih besar atas komposisi bahannya.

Tiga masalah yang paling sering muncul dan solusinya:

  • Air menggenang di mulut lubang. Biasanya karena penutup tersumbat atau isi lubang terlalu padat. Angkat penutup, bersihkan, lalu gemburkan bagian atas isian.
  • Muncul bau menyengat. Tanda sampah membusuk tanpa oksigen. Kurangi porsi sisa makanan basah dan tambahkan daun kering atau serbuk gergaji.
  • Lubang mendangkal cepat. Tanah di sekitar mulut lubang longsor ke dalam. Pasang pipa PVC yang lebih panjang atau perkuat dengan cincin semen.

Kesalahan Umum saat Membuat Lubang Biopori

Lima hal berikut paling sering bikin lubang berhenti berfungsi lebih cepat dari seharusnya. Semuanya bisa dihindari sejak tahap awal.

  • Membuat lubang lebih kecil dari 10 cm. Ukuran ini dipilih Kamir R. Brata dengan pertimbangan spesifik. Lubang yang lebih sempit menyulitkan sampah masuk dan menghambat oksigen. Ukuran 10 cm juga membuat tikus enggan masuk karena tidak bisa berbelok di dalamnya.
  • Membuat lubang lalu dibiarkan kosong. Tanpa sampah organik, tidak ada yang memicu cacing dan mikroba datang. Lubang kosong perlahan tertutup tanah dan berhenti berfungsi.
  • Memadatkan sampah sampai penuh sesak. Oksigen tidak masuk, penguraian melambat, dan bau muncul.
  • Meletakkan lubang di titik tertinggi halaman. Air hujan mengalir ke tempat rendah. Lubang di puncak halaman jarang kemasukan air.
  • Melewatkan penutup lubang. Lubang terbuka mengundang risiko kaki terperosok, sampah plastik masuk, dan genangan yang jadi tempat nyamuk berkembang biak.

Hasil yang Bisa Kamu Harapkan

Klaim yang paling sering beredar adalah lubang biopori meningkatkan luas bidang resapan hingga 40 kali lipat. Angka ini muncul di situs resmi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Grobogan, Dinas Lingkungan Hidup Luwu Utara, dan sejumlah jurnal pengabdian masyarakat.

Perlu diluruskan asal angkanya. Angka 40 kali berasal dari perbandingan geometris: lubang berdiameter 10 cm memakan luas permukaan tanah sekitar 78,5 cm2, sementara dinding dan dasar lubang sedalam 100 cm memberi bidang kontak air sekitar 3.220 cm2. BBKSDA Papua Barat menyebut angka 3.218 cm2 untuk perhitungan yang sama. Perbandingannya memang sekitar 40 kali. Angka itu menggambarkan pertambahan luas bidang kontak air, dan sejauh penelusuran kami belum ada pengukuran lapangan yang menunjukkan volume air terserap ikut naik 40 kali. Perlakukan angka ini sebagai gambaran desain lubang.

Volume air yang meresap tetap dibatasi jenis tanah. Lampiran Permen LH 12/2009 mencantumkan nilai kelulusan batuan yang berbeda jauh antar jenis tanah: pasir 2,5 m per hari, campuran pasir dan lempung 1,3 m per hari, dan lempung hanya 0,08 m per hari. Halaman bertanah lempung akan menyerap jauh lebih lambat dibanding halaman berpasir, dengan lubang yang persis sama.

Yang bisa kamu harapkan secara realistis dari beberapa lubang di halaman rumah:

  • Genangan di halaman surut lebih cepat setelah hujan berhenti
  • Volume sampah dapur yang keluar rumah berkurang, karena tiap lubang berdiameter 10 cm sedalam 100 cm menampung sekitar 7,8 liter material
  • Kompos gratis setiap 2 sampai 3 bulan untuk tanaman di rumah
  • Tanah di sekitar lubang jadi lebih gembur

Lubang biopori di satu rumah tidak akan menyelesaikan banjir di satu kompleks. Efeknya terasa signifikan kalau banyak rumah melakukannya bersamaan, dan itulah alasan program biopori biasanya digerakkan di level RT atau RW.

Kalau kamu memakai kompos hasil panen untuk kebun, ada baiknya mengecek pH tanah lebih dulu, karena penambahan bahan organik terus menerus bisa menggeser keasaman tanah dari waktu ke waktu.

FAQ

Berapa lama sampah di lubang biopori berubah jadi kompos? Permen LH 12/2009 memperkirakan 2 sampai 3 bulan sampai proses pelapukan selesai dan isinya bisa dipanen sebagai kompos. Kecepatannya dipengaruhi jenis sampah, kelembapan, dan suhu. Sisa sayur dan kulit buah terurai jauh lebih cepat dibanding tulang atau ranting keras.

Apakah lubang biopori bikin bau dan mengundang tikus? Lubang yang dirawat benar tidak berbau menyengat. Bau muncul kalau sampah basah dipadatkan tanpa lapisan daun kering di atasnya. Soal tikus, diameter 10 cm dipilih Kamir R. Brata justru karena tikus kesulitan berbelok di lubang sesempit itu, dan penutup saringan menambah lapisan pengaman.

Bisakah membuat lubang biopori tanpa bor khusus? Bisa, dengan linggis atau besi runcing, tetapi hasilnya lebih lama dan dinding lubang cenderung tidak rata. Untuk 3 lubang atau lebih, bor manual jauh lebih hemat tenaga. Meminjam alat dari pengurus RT atau Dinas Lingkungan Hidup setempat sering jadi pilihan yang masuk akal.

Apakah lubang biopori bisa dibuat di halaman yang sudah dicor atau dipaving? Bisa, dengan membongkar titik kecil selebar pipa di lokasi yang dilewati aliran air. Permen LH 12/2009 menyebut halaman parkir termasuk lokasi yang diperuntukkan bagi LRB. Titik paling efektif ada di jalur air mengalir atau di bawah talang.

Apakah aman membuat lubang biopori kalau muka air tanahnya dangkal? Kedalamannya harus disesuaikan supaya tidak melebihi muka air tanah, sesuai definisi LRB dalam Permen LH 12/2009. Lubang sedalam 60 sampai 80 cm tetap bekerja. Untuk kawasan karst, rawa, dan gambut, aturan yang sama mengecualikan kewajiban membuat biopori.

Mulai dari 1 Lubang di Titik Paling Becek

Cara membuat lubang biopori memang selesai dalam setengah jam, dan justru di situ letak jebakannya. Inti manfaatnya ada di perawatan, karena lubang yang dibiarkan kosong akan berhenti bekerja dalam hitungan minggu. Langkah paling konkret yang bisa kamu lakukan hari ini: cari titik paling becek di halaman setelah hujan terakhir, tandai, dan buat 1 lubang di sana. Satu lubang yang terisi rutin jauh lebih berguna dibanding 10 lubang yang ditinggalkan.

Hasilnya akan berbeda di tiap rumah. Halaman bertanah lempung menyerap jauh lebih lambat dibanding halaman berpasir, dan rumah di kawasan rawa atau gambut memang tidak cocok untuk metode ini. Harga alat yang disebutkan di artikel ini adalah kondisi Agustus 2026, jadi cek ulang sebelum belanja. Kalau setelah 2 minggu lubangmu tetap menggenang berjam-jam, kemungkinan besar masalahnya ada di jenis tanah, dan sumur resapan jadi opsi yang lebih tepat.

Kalau artikel ini membantu, bagikan ke orang tersayang yang halaman rumahnya juga sering becek tiap kali hujan.

Leave a Comment

Previous

Pengelolaan Sampah Dapur: Panduan Lengkap dari Pilah sampai Jadi Kompos

Next

Cara Memilah Sampah Rumah Tangga Jadi 4 Kategori yang Benar