Pengelolaan sampah dapur yang realistis untuk rumah tangga terdiri dari 3 lapis: kurangi sisa makanan sejak belanja dan menyimpan, pilah sampah di titik yang sama saat kamu memasak, lalu olah bagian organiknya dengan 1 metode yang cocok dengan luas rumah kamu. Kamu tidak perlu halaman luas atau alat mahal untuk memulai. Yang kamu perlukan adalah 3 wadah terpisah dan kebiasaan menaruh sampah di wadah yang benar sejak detik pertama.
Ringkasan cepat kalau kamu buru-buru:
- Pilah sampah dapur jadi 4 kategori: organik, anorganik, B3, dan residu
- Tiriskan sisa makanan sebelum masuk wadah, karena air lindi yang bikin bau dan mengundang lalat
- Pilih 1 metode pengolahan organik: keranjang Takakura, ember tumpuk, lubang biopori, atau maggot BSF
- Jangan pernah buang minyak jelantah ke wastafel
- Sampah yang tidak bisa kamu olah sendiri disalurkan ke bank sampah, TPS3R, atau pengepul terdekat
Kenapa Pengelolaan Sampah Dapur Jadi Urusan Mendesak Tahun Ini
Aturannya sudah berubah. Kementerian Lingkungan Hidup menetapkan seluruh Tempat Pemrosesan Akhir di Indonesia menghentikan praktik open dumping mulai 1 Agustus 2026. Sejumlah daerah menerjemahkan aturan ini dengan membatasi jenis sampah yang boleh masuk TPA. Kota Makassar, misalnya, menetapkan TPA Tamangapa hanya menerima sampah residu sejak tanggal tersebut lewat Instruksi Wali Kota Nomor 1 Tahun 2026, sementara sampah organik diarahkan diolah mandiri atau komunal di tingkat RT dan RW.
Daerah lain bergerak lebih dulu. Jakarta mewajibkan pemilahan sampah rumah tangga jadi 4 kategori sejak 10 Mei 2026 lewat Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026. Bali mendeklarasikan kewajiban pilah sampah dari sumber mulai 1 Juli 2026. Artinya, memilah sampah dapur pelan-pelan bergeser dari pilihan pribadi jadi kewajiban warga di banyak kota.
Skala masalahnya besar. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional mencatat sisa makanan sebagai penyumbang terbesar komposisi sampah Indonesia, di kisaran 39% sampai 41% tergantung tahun pelaporan. Kalau dilihat dari sumbernya, rumah tangga memegang porsi terbesar dengan sekitar 56,7% dari total timbulan nasional menurut catatan SIPSN untuk data 2025. Dapur kamu ada di dalam angka itu.
Kajian Food Loss and Waste yang disusun Bappenas bersama Waste4Change dan World Resources Institute pada 2021 memberi gambaran nilainya. Untuk periode 2000 sampai 2019, Indonesia membuang 23 sampai 48 juta ton pangan per tahun, setara 115 sampai 184 kilogram per orang per tahun. Kerugian ekonominya ditaksir Rp213 triliun sampai Rp551 triliun per tahun, atau 4% sampai 5% PDB. Energi yang hilang dari pangan itu setara porsi makan 61 juta sampai 125 juta orang.
Ada juga alasan yang lebih dekat dengan rumah kamu. Sisa makanan yang menumpuk di tempat terbuka mengundang lalat dan tikus. Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana, Sang Gede Purnama, menjelaskan saat penumpukan sampah di Denpasar pada April 2026 bahwa lalat hinggap ke makanan pada siang hari dan tikus keluar malam hari, dengan risiko turunan berupa diare, ISPA, sampai leptospirosis. Memilah sampah dapur memutus rantai itu sejak awal.
Kenali 4 Jenis Sampah yang Keluar dari Dapur Kamu
Kesalahan paling awal dalam pengelolaan sampah dapur adalah menganggap semua isi tong sampah dapur itu sampah basah. Padahal isinya campuran 4 kategori yang penanganannya berbeda. Pemilahan 4 kategori ini yang dipakai Jakarta dan Makassar, jadi memakai kerangka yang sama akan memudahkan kamu kalau daerahmu menyusul. Langkah demi langkahnya dibahas lebih rinci di panduan cara memilah sampah rumah tangga jadi 4 kategori.
Tabel 1: 4 Kategori Sampah Dapur dan Tujuan Akhirnya
| Kategori | Contoh dari Dapur | Ke Mana Perginya |
|---|---|---|
| Organik | Sisa nasi dan lauk, kulit buah, potongan sayur, ampas kopi, ampas teh, cangkang telur, sisa kuah yang sudah ditiriskan | Diolah sendiri jadi kompos, atau disetor ke rumah kompos dan TPS3R terdekat |
| Anorganik | Botol plastik, kaleng susu, kardus kemasan, botol kaca, tutup logam, kemasan plastik yang sudah dibilas dan kering | Bank sampah, pengepul, atau layanan penjemputan daur ulang |
| B3 | Baterai timbangan dapur, lampu bekas, botol pembersih oven, kemasan pestisida rumah tangga, obat kedaluwarsa | Dropbox B3 di kelurahan atau bank sampah induk, jangan dicampur ke tong biasa |
| Residu | Tisu bekas, styrofoam, sedotan, kemasan sachet berlapis, kardus yang sudah meresap minyak, popok dan pembalut | Satu-satunya kategori yang wajar diangkut petugas menuju TPA |
Sampah B3 rumah tangga sering luput. Baterai timbangan dapur, lampu bekas, botol pembersih oven, dan kemasan pestisida rumah tangga masuk kategori ini dan tidak boleh dicampur ke tong biasa. Sebagian daerah menyediakan dropbox B3 di kantor kelurahan atau bank sampah induk.
Alat dan Persiapan Sebelum Kamu Mulai Memilah
Siapkan hal berikut sebelum langkah pertama. Semuanya bisa kamu penuhi dalam 1 kali belanja:
- 3 wadah terpisah untuk area dapur: 1 untuk organik, 1 untuk anorganik bersih, 1 untuk residu
- 1 wadah kecil bertutup untuk B3, boleh diletakkan di gudang atau rak bawah
- 1 saringan atau tirisan untuk mengurangi air dari sisa makanan
- 1 botol atau jeriken bekas bertutup rapat khusus minyak jelantah
- Pisau atau gunting dapur untuk mencacah sisa organik jadi potongan kecil
- Wadah pengolahan sesuai metode yang kamu pilih, misalnya keranjang berlubang atau ember tumpuk
Letakkan ketiga wadah utama di 1 titik yang sama, sedekat mungkin dengan tempat kamu memotong bahan. Jarak beberapa langkah saja sudah cukup untuk membuat orang rumah malas memilah dan kembali mencampur semuanya.
5 Langkah Pengelolaan Sampah Dapur dari Nol
Langkah 1: Kurangi Sampah dari Hulu
Sampah organik paling mudah ditangani adalah sampah yang tidak pernah ada. Sebagian besar isi tong sampah dapur berasal dari bahan yang terlanjur layu, basi, atau lupa dimasak. Perbaiki dulu 3 hal ini:
- Belanja dengan daftar dan batasi perkiraan untuk 3 sampai 5 hari ke depan
- Simpan bahan di tempat dan suhu yang tepat, karena bahan yang cepat rusak akan berakhir jadi sampah
- Masak ulang atau olah lagi sisa makanan yang masih layak sebelum jadwal buang
Bagian penyimpanan ini yang paling sering jadi titik bocor. Kalau kamu belum yakin soal penempatan bahan di dalam kulkas, baca dulu panduan cara menyimpan makanan di kulkas dan pastikan suhu kulkas yang tepat sudah kamu setel dengan benar. Untuk sisa masakan semalam, ada aturan waktu dan wadah yang berbeda, dan itu dibahas terpisah di panduan menyimpan sisa makanan supaya tidak cepat basi.
Langkah 2: Pilah Saat Tangan Kamu Masih Memegang Bahannya
Pemilahan berhasil kalau terjadi saat tangan kamu masih memegang bahannya. Kulit bawang langsung ke wadah organik saat kamu mengupas. Plastik bungkus tempe langsung ke wadah anorganik saat kamu membukanya. Begitu semuanya sudah tercampur di 1 kantong, memisahkannya kembali butuh waktu 3 kali lebih lama dan hampir tidak ada yang mau melakukannya.
Tempel label sederhana di ketiga wadah selama 2 minggu pertama. Ini membantu anggota keluarga lain yang belum hafal kategorinya.
Langkah 3: Tiriskan dan Cacah Sampah Organiknya
Air adalah penyebab utama bau. Kuah, air rendaman, dan air cucian yang ikut masuk ke wadah organik akan menghasilkan lindi, cairan cokelat berbau tajam yang mengundang lalat dalam hitungan jam di suhu tropis. Tiriskan sisa makanan sebelum masuk wadah, dan buang kuah ke saluran air kotor secara terpisah.
Cacah sampah organik jadi potongan sekitar 2 sentimeter. Panduan Takakura yang dipublikasikan Cyber Extension Kementerian Pertanian menyebut pencacahan mempercepat penguraian karena memperluas permukaan yang bisa dijangkau mikroorganisme. Prinsip ini berlaku untuk semua metode pengomposan.
Langkah 4: Pilih 1 Metode Pengolahan Organik
Jangan mencoba 3 metode sekaligus di bulan pertama. Pilih 1 yang paling cocok dengan kondisi rumah kamu, jalankan 30 hari, baru evaluasi. Perbandingan lengkapnya ada di bagian berikutnya.
Langkah 5: Salurkan yang Tidak Bisa Kamu Olah Sendiri
Anorganik bersih dan kering masuk ke bank sampah atau pengepul. Minyak jelantah dikumpulkan di jeriken lalu disetor ke bank sampah atau program pengumpulan jelantah. Sampah B3 dibawa ke dropbox resmi. Residu adalah satu-satunya kategori yang wajar berakhir di truk pengangkut menuju TPA.
Cek dulu fasilitas terdekat lewat peta sebaran fasilitas pengelolaan sampah di situs SIPSN, atau tanya pengurus RT karena banyak bank sampah tingkat RW tidak terdaftar di sistem nasional.
Bandingkan 4 Metode Mengolah Sampah Organik Dapur di Rumah
Tabel 2: Perbandingan 4 Metode Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga
| Metode | Kebutuhan Ruang | Waktu sampai Siap Panen | Tingkat Perawatan | Cocok untuk |
|---|---|---|---|---|
| Keranjang Takakura | Minim, cukup 1 sudut teduh | Keranjang penuh 2 sampai 4 bulan, lalu didiamkan 14 hari | Sedang, perlu diaduk rutin | Rumah tanpa halaman, apartemen dengan balkon teduh, keluarga kecil sampai sedang |
| Ember Tumpuk | Kecil, butuh tinggi untuk 2 sampai 3 ember | Sekitar 1 sampai 2 bulan per ember, dengan rotasi posisi | Sedang, perlu jadwal rotasi ember | Kamu yang juga ingin memanen pupuk cair dari lindi |
| Lubang Resapan Biopori | Butuh tanah terbuka, diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm | Sekitar 3 bulan sampai kompos bisa diangkat | Rendah, hanya isi ulang tiap 2 sampai 3 hari | Rumah berhalaman tanah, area yang sering tergenang saat hujan |
| Maggot BSF | Sedang, perlu area terpisah dari ruang tinggal | Larva dipanen hari ke-10 sampai ke-14 | Tinggi, perlu menjaga siklus indukan dan kelembapan | Kelompok RT atau RW, rumah yang punya ternak ikan atau unggas, volume sisa daging rutin |
Keranjang Takakura
Metode ini dikembangkan peneliti Jepang Koji Takakura dan pertama kali diperkenalkan di Surabaya pada 2004. Prinsipnya pengomposan aerob di dalam keranjang berlubang yang dilapisi kardus, dengan bantalan sekam di bagian atas dan bawah. Karena prosesnya memakai oksigen, baunya jauh lebih terkendali dibanding tumpukan tertutup.
Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang menyebut keranjang Takakura bisa mengolah sekitar 1,5 kilogram sampah per hari, ukuran yang pas untuk keluarga kecil sampai sedang. Menurut penjelasan kader lingkungan di Sleman yang dimuat Media Center Sembada, keranjang biasanya penuh dalam 2 sampai 4 bulan. Setelah penuh, ambil sekitar sepertiga bagian atas, diamkan 14 hari sebelum dipakai sebagai pupuk, dan sisakan bagian bawahnya sebagai bibit untuk siklus berikutnya.
Cocok untuk kamu yang tinggal di rumah tanpa halaman, apartemen dengan balkon teduh, atau kos yang punya area servis. Langkah setup lengkapnya, termasuk cara membuat bantalan sekam dan menyiapkan bibit kompos, ada di panduan terpisah cara membuat kompos dari sampah dapur dengan keranjang Takakura.
Ember Tumpuk
Sistem ini memakai 2 sampai 3 ember bertumpuk. Ember atas menampung sampah organik baru, ember bawah menampung lindi yang menetes lewat lubang. Lindi yang terkumpul bisa diencerkan sekitar 1 bagian lindi untuk 10 bagian air dan dipakai sebagai pupuk cair.
Kelebihannya, kamu mendapat 2 produk sekaligus. Kekurangannya, sistem ini butuh rotasi: saat ember atas penuh, dia dipindahkan ke posisi tengah untuk pematangan sementara ember kosong naik ke atas. Kalau kamu tipe yang mudah lupa jadwal, metode ini akan terasa merepotkan.
Lubang Resapan Biopori
Teknik ini dikembangkan Kamir R. Brata, peneliti Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB. Bentuknya lubang silindris vertikal berdiameter sekitar 10 sentimeter dengan kedalaman sekitar 100 sentimeter, dan jarak antarlubang 50 sampai 100 sentimeter. Mulut lubang diperkuat semen selebar 2 sampai 3 sentimeter agar tidak longsor.
1 lubang berukuran standar menampung sekitar 7,8 liter sampah organik, yang untuk rumah tangga umumnya habis dalam 2 sampai 3 hari pengisian. Kompos di dalamnya bisa dipanen setelah sekitar 3 bulan. Bonusnya, lubang ini meningkatkan resapan air hujan dan mengurangi genangan di halaman.
Syaratnya jelas: kamu butuh tanah terbuka. Rumah yang halamannya sudah dibeton total tetap bisa, asal ada 1 titik yang boleh dibongkar. Panduan pembuatan dan perawatan hariannya dibahas tuntas di cara membuat lubang biopori di rumah dan perawatannya.
Budidaya Maggot BSF
Maggot adalah larva lalat Black Soldier Fly (Hermetia illucens), serangga yang tidak hinggap di makanan manusia dan tidak dikenal sebagai pembawa penyakit seperti lalat rumah. Larvanya melahap sisa makanan dengan cepat, termasuk jenis yang sulit dikompos seperti sisa daging.
Angka kemampuan makannya berbeda-beda antarsumber, jadi perlakukan sebagai perkiraan. Materi penyuluhan Pusat Penyuluhan Kementerian Kehutanan menyebut 15.000 larva menghabiskan sekitar 2 kilogram sampah organik dalam 24 jam, sementara sumber lain mengklaim angka yang jauh lebih tinggi. Panen umumnya dilakukan pada hari ke-10 sampai ke-14, dan hasilnya bisa dipakai sebagai pakan ikan atau unggas.
Metode ini paling menuntut. Kamu perlu memelihara siklus indukan, menjaga kelembapan media, dan siap dengan aroma fermentasi yang khas. Lebih realistis dijalankan bersama tetangga di tingkat RT dibanding sendirian. Panduan langkah demi langkah untuk pemula ada di budidaya maggot BSF skala rumah tangga untuk pemula.
Cara Menangani Sampah Dapur yang Paling Sering Bikin Bingung
Minyak Jelantah
Jangan tuang ke wastafel, kloset, atau selokan. Lemak mengeras saat suhu turun, menempel di dinding pipa, lalu menangkap sisa makanan yang lewat sampai saluran tersumbat. Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat memberi panduan yang sama, dan Kementerian Lingkungan Hidup mendorong masyarakat mengumpulkan jelantah dalam wadah tertutup untuk disetor ke bank sampah atau lembaga pengelola limbah.
Praktiknya: tunggu minyak dingin sepenuhnya, saring, lalu tuang ke botol atau jeriken bekas bertutup rapat. Setelah terkumpul beberapa liter, setor ke bank sampah atau pengepul jelantah. Sebagian program memberi kompensasi uang atau poin.
Ada 1 catatan pengecekan di sini. Klaim populer bahwa 1 liter jelantah mencemari 1 juta liter air beredar luas, tetapi angkanya berbeda jauh antarsumber, ada yang menulis 1.000 liter dan ada yang menulis 1 juta liter, tanpa rujukan ke penelitian primer yang bisa ditelusuri. Perlakukan angka itu sebagai ilustrasi kampanye yang masih menunggu verifikasi. Alasan untuk tidak membuangnya ke saluran air sudah cukup kuat tanpa angka tersebut.
Tulang, Daging, dan Produk Susu
Di sinilah panduan resmi saling berbeda, dan kamu berhak tahu.
EPA Amerika Serikat menyarankan tidak memasukkan daging, tulang, ikan, produk susu, lemak, dan minyak ke komposter rumahan karena memicu bau dan mengundang tikus serta lalat. Alasan teknisnya, tumpukan kompos halaman rumah jarang mencapai suhu yang cukup tinggi untuk menguraikan bahan-bahan itu dengan aman.
Sebaliknya, panduan Takakura yang beredar di Indonesia, termasuk materi dari kader lingkungan Sleman, menyebut sisa nasi, tulang ikan, dan tulang ayam boleh masuk keranjang. Perbedaan ini masuk akal karena sistemnya berbeda: Takakura memakai bibit kompos aktif, sekam penyerap, dan tutup kain yang menahan serangga.
Jalan tengah yang aman untuk pemula: mulai tanpa daging dan tulang selama 30 hari pertama sampai kamu paham ritme komposter kamu. Kalau ingin memasukkannya, kubur di bagian tengah tumpukan, tutup dengan bahan cokelat kering yang cukup tebal, dan pantau baunya. Untuk sisa daging dalam jumlah rutin, maggot BSF lebih tepat dibanding komposter biasa.
Kemasan Bekas Makanan
Plastik dan kardus yang terkena minyak atau kuah masuk kategori residu karena pengepul umumnya menolaknya. Kalau masih bisa dibilas dan dikeringkan, cuci lalu masukkan ke wadah anorganik. Kalau sudah terlanjur meresap minyak, seperti kardus pizza bagian bawah, jangan paksakan.
Bahan yang Boleh dan Sebaiknya Dihindari di Komposter Rumahan
Kunci kompos yang tidak bau adalah keseimbangan bahan hijau dan bahan cokelat. EPA menganjurkan perbandingan 2 sampai 3 bagian bahan cokelat kaya karbon untuk 1 bagian bahan hijau kaya nitrogen, setara rasio karbon dan nitrogen sekitar 30 banding 1.
Bahan hijau adalah sisa dapur yang basah: kulit buah, potongan sayur, ampas kopi, ampas teh. Bahan cokelat adalah bahan kering: daun kering, sekam, kardus polos yang disobek, potongan ranting, kertas tanpa tinta berwarna.
Tabel 3: Daftar Bahan untuk Komposter Rumahan
| Status | Contoh Bahan | Catatan |
|---|---|---|
| Aman masuk (hijau) | Kulit buah, potongan sayur, ampas kopi, ampas teh, cangkang telur yang diremukkan, sisa nasi | Cacah sekitar 2 cm dan tiriskan airnya lebih dulu |
| Aman masuk (cokelat) | Daun kering, sekam, ranting kecil, kardus polos yang disobek, kertas tanpa tinta berwarna | Porsinya 2 sampai 3 kali lebih banyak dari bahan hijau |
| Perlu hati-hati | Tulang ayam, tulang ikan, sisa daging, kulit jeruk dalam jumlah besar | EPA menyarankan dihindari di komposter rumahan, sementara panduan Takakura membolehkannya. Kubur di tengah dan tutup bahan cokelat tebal, atau alihkan ke maggot BSF |
| Sebaiknya dihindari | Minyak dan lemak, produk susu, kotoran hewan peliharaan, tanaman berpenyakit, abu pembakaran | Memicu bau tajam, mengundang tikus dan lalat, dan berisiko membawa patogen |
| Tidak boleh sama sekali | Plastik, logam, kaca, sedotan, kemasan sachet, sisa obat, baterai | Bukan bahan organik dan akan mencemari hasil kompos |
Kalau tumpukan kompos kamu berbau amonia atau menyengat, tambahkan bahan cokelat. Kalau prosesnya terasa dingin dan lambat, tambahkan bahan hijau dan sedikit air. Kelembapan yang tepat kira-kira seperti spons yang sudah diperas.
6 Kesalahan Umum dalam Pengelolaan Sampah Dapur
- Memakai 1 tong lalu berniat memilah nanti. Setelah tercampur dan basah, hampir tidak ada yang jadi dipilah ulang.
- Membiarkan kuah dan air masuk ke wadah organik. Ini penyebab nomor 1 bau dan lalat, dan sepenuhnya bisa dicegah dengan meniriskan.
- Menaruh komposter kena matahari langsung. Panas berlebih mengeringkan media dan mematikan mikroorganisme pengurainya. Taruh di tempat teduh.
- Membakar sampah dapur. Sampah basah menghasilkan asap tebal dan partikel yang mengganggu pernapasan, terutama untuk anak dan lansia di rumah sebelah.
- Menyetor anorganik dalam kondisi kotor. Botol bekas kecap yang belum dibilas sering ditolak pengepul dan berakhir jadi residu.
- Menyerah di minggu ke-2. Kompos pertama memang tidak instan. Keranjang Takakura butuh 2 sampai 4 bulan sampai siap panen pertama.
Hasil yang Bisa Kamu Harapkan dalam 30 Hari Pertama
Minggu 1 biasanya paling berantakan. Kamu akan salah menaruh beberapa item, dan itu wajar. Minggu 2, volume sampah yang keluar rumah mulai terlihat menyusut karena porsi organik sudah tidak ikut dibuang.
Memasuki minggu 3 dan 4, tong sampah utama kamu terasa lebih ringan dan tidak lagi berbau tajam saat diangkat. Untuk komposter, suhu media yang terasa hangat saat kamu dekatkan tangan adalah tanda proses berjalan. Kompos matang ditandai warna cokelat gembur, aroma seperti tanah, dan tidak ada potongan bahan yang masih dikenali bentuknya.
Soal biaya, jangan berharap alat pengolahan selalu murah. Sang Gede Purnama dari Universitas Udayana menyebut komposter model teba modern bisa menelan Rp500.000 sampai Rp1 juta per unit pada April 2026, belum termasuk alat pencacah dan perawatan. Kalau angka itu di luar anggaran kamu, keranjang berlubang bekas dan ember cat bekas yang dilubangi tetap bekerja dengan prinsip yang sama.
FAQ
Apa saja yang termasuk sampah dapur? Sampah dapur mencakup 4 kategori. Organik berupa sisa makanan, kulit buah, potongan sayur, ampas kopi, dan cangkang telur. Anorganik berupa botol plastik, kaleng, kardus, dan botol kaca. B3 berupa baterai, lampu bekas, dan kemasan bahan kimia pembersih. Residu berupa tisu bekas, styrofoam, dan kemasan berminyak yang tidak bisa didaur ulang.
Berapa lama sampah dapur jadi kompos? Tergantung metodenya. Keranjang Takakura umumnya penuh dalam 2 sampai 4 bulan, lalu hasil panennya perlu didiamkan 14 hari lagi sebelum dipakai. Lubang biopori bisa dipanen setelah sekitar 3 bulan. Maggot BSF paling cepat karena larvanya dipanen pada hari ke-10 sampai ke-14, meski hasil utamanya berupa larva dan residu media, dengan kompos matang sebagai produk turunan.
Apakah sampah dapur boleh dikubur langsung di tanah? Boleh, dan lubang resapan biopori adalah versi terstruktur dari kebiasaan itu. Bedanya, biopori dibuat dengan diameter dan kedalaman terukur serta ditutup agar tidak jadi sarang nyamuk dan tidak diacak-acak hewan. Mengubur sembarangan tanpa penutup berisiko mengundang tikus.
Kenapa komposter di rumah saya bau busuk? 3 penyebab paling umum: terlalu banyak air atau bahan basah, kekurangan bahan cokelat kering, dan kurangnya sirkulasi udara. Tambahkan sekam, daun kering, atau sobekan kardus, lalu aduk agar oksigen masuk. Pastikan juga tidak ada kuah atau minyak yang ikut tertuang ke dalamnya.
Ke mana saya harus membuang minyak jelantah? Kumpulkan dalam botol atau jeriken bertutup rapat setelah minyak dingin dan disaring, lalu setor ke bank sampah, pengepul jelantah, atau program pengumpulan minyak bekas di daerah kamu. Jangan pernah menuangnya ke wastafel, kloset, selokan, atau langsung ke tanah.
Mulai dari 3 Wadah di Dapur Kamu Hari Ini
Pengelolaan sampah dapur berhasil karena kebiasaan kecil yang konsisten, dan alat canggih tidak bisa menggantikan itu. Langkah paling konkret yang bisa kamu lakukan hari ini adalah menyiapkan 3 wadah terpisah di dapur, menaruhnya berdampingan di dekat area memotong, lalu meniriskan setiap sisa makanan sebelum masuk wadah organik. Baru setelah 2 minggu kebiasaan itu jalan, pilih 1 metode pengolahan dan beli alatnya.
Ada 2 hal yang perlu kamu cek ulang. Pertama, aturan pemilahan berbeda antardaerah dan terus berkembang setelah kebijakan penghentian open dumping berlaku, jadi tanyakan ke pengurus RT atau Dinas Lingkungan Hidup setempat soal kategori dan jadwal angkut yang berlaku di wilayah kamu. Kedua, ketersediaan bank sampah dan dropbox B3 berbeda jauh antarkota, sehingga rencana penyaluran sampah kamu sebaiknya disesuaikan dengan fasilitas yang tersedia di sekitar rumah.
Kalau artikel ini membantu, bagikan ke orang tersayang yang mungkin lagi butuh informasi ini.